Showing posts with label end user. Show all posts
Showing posts with label end user. Show all posts

Saturday, August 8, 2015

Opini Tentang Teknologi 4G LTE

Sekilas opini mengenai Teknologi 4G LTE kedepan...menarik untuk dicermati..



Proses Adopsi Teknologi 4G/LTE Menuju Kematangan di Indonesia

Pengadopsian teknologi 4G/LTE yang menjanjikan koneksi Internet melalui perangkat mobile yang lebih baik telah diperkenalkan akhir tahun lalu. Segelintir orang menilai langkah ini cenderung kurang matang, mengingat regulasi dan infrastruktur yang ada belum sempurna. Sejatinya implementasi teknologi 4G/LTE memang harus segera dilakukan. Semakin cepat digarap, maka kematangannya juga akan semakin cepat terealisasi.

Memiliki alokasi lebar pita 5 MHz dengan kecepatan maksimal sekitar 33-36 Mbps di tempat tertentu, menjadikan 4G/LTE terkesan terburu-buru. Dengan layanan yang ditawarkan, masyarakat masih bisa mendapatkan akses 3G/HSDPA yang lebih baik dari 4G/LTE saat ini. Segelintir developer maupun penggiat startup merespon dengan pesimis tentang hal ini.

COO DyCode Dyan Helmi mengutarakan bahwa 4G/LTE hanya menjadi semacam janji manis untuk mendapatkan koneksi yang lebih baik. Dalam penuturannya, Ia memilih koneksi 3G/HSDPA yang nyata dan prima aksesnya, ketimbang 4G/LTE namun belum memiliki infrastruktur dan regulasi yang belum sempurna.

Sebagai end-user sekaligus developer, Managing Director OneBit Media Fachry Bafadal mengutarakan hal yang seirama. Fachry percaya jika implikasi 4G/LTE terhadap masyarakat tidak dapat terjadi secara instan.

“Gagasan implementasi 4G/LTE ini menarik, walaupun secara personal saya masih pesimis layanan ini dapat langsung digunakan dalam skala besar. Dari sisi pengembang, kualitas Internet yang lebih bagus tentunya memudahkan kami untuk fokus di development-nya,” paparnya

Ya, teknologi 4G/LTE bukanlah sesuatu yang bisa langsung dimaanfaatkan dengan segera. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga bukan jajaran penyihir ulung yang mampu memberikan segala yang dibutuhkan masyarakat dengan seketika. Segalanya membutuhkan proses.

Vice President Marketing & Communications Ericsson Indonesia Hardyana Syintawati mengatakan bahwa pada tahun 2005 silam layanan 3G di Indonesia resmi diperkenalkan, namun penggunaannya baru umum digunakan sekitar tahun 2011 lalu. Sama seperti 3G, awal pengadopsian 4G/LTE yang dilakukan para operator dimulai dari kota-kota besar karena di situ merupakan pusat traffic berada. Menurutnya, salah satu hambatan ialah proses edukasi bahwa 3G lebih cepat dari 2G meskipun mengkonsumsi nyawa baterai perangkat dengan lebih cepat.

Kapan pemanfaatan 4G/LTE di Indonesia dapat secara maksimal dan umum digunakan seperti 3G saat ini? Yaitu ketika teknologi 4G/LTE telah matang. Tingkat kedewasaan seperti saat ini dinilai tidak membutuhkan waktu lama seperti yang dialami oleh layanan 3G, karena tiap entitasnya telah mempersiapkan diri dengan baik.

Masyarakat dianggap semakin familiar dengan akses data yang semakin besar dari hari ke hari. Urgensi untuk memiliki akses Internet yang lebih cepat mempersingkat proses pengedukasian seperti yang dijelaskan oleh Hardyana Syintawati sebelumnya kala memperkenalkan 3G.

Sementara dari kesiapan operator telekomunikasi, menurut pihak Ericsson selaku vendor yang melayani para operator di Tanah Air memberikan komentar bahwa sebagian besar operator telah termodernisasi. Proses perpindahan frekuensi ataupun roll-out jaringan tidak membutuhkan waktu dan usaha lebih banyak. Meskipun pada akhirnya dapat berujung pada masalah finansial, tiap operator dinilai telah memiliki penilaian selektif tentang investasi apa yang harus dilakukan demi menghadirkan layanan 4G/LTE dengan segera.

Sebagai penyelenggara utama layanan 4G/LTE, Kemenkominfo telah mengemukakan rencana pembukaan izin frekuensi 1800 MHz di pertengahan tahun 2015 ini. Dengan tersedianya frekuensi 1800 MHz, kecepatan layanan 4G/LTE yang jauh lebih baik dapat terealisasikan. Isu percepatan pemberian izin ini nampaknya semakin santer terdengar, setelah IndoTelko memberitakan Kemenkominfo telah menggelar rapat dengan para petinggi operator di awal pekan ini.


Thursday, May 14, 2015

Physical Layer

Pada bagian ini menjelaskan tentang physical layer LTE berdasarkan prinsip penggunaan OFDMA dan SC-FDMA. Physical layer ditandai dengan prinsip desain yang tidak diperlukan sumber daya yang didedikasikan untuk satu pengguna; penggunaan sumber daya hanya didasarkan pada alokasi sumber daya yang dinamis yang digunakan secara bersama. Hal ini dianalogikan dengan sumber daya penggunaan di internet, yang berbasis paket tanpa alokasi sumber daya-pengguna tertentu. Physical layer dari sistem akses radio memiliki peran penting untuk mendefinisikan kapasitas yang pada akhirnya menjadi titik fokus dalam hal kinerja yang diharapkan. Namun, sistem yang kompetitif membutuhkan lapisan protokol yang efisien untuk memastikan kinerja yang baik dari application layer sampai end user

Dari sifat desain yang sudah dibahas, LTE hanya berisi common transport channel; dedicated transport channel tidak ada (Dedicated Channel, DCH, seperti dalam WCDMA). Transport channel adalah interface antara MAC layer dan Physical layer. Dalam setiap transport channel, pemrosesan diterapkan untuk physical layer yang sesuai untuk membawa saluran transportasi tersebut. Physical layer tersebut diperlukan untuk memberikan penugasan sumber daya yang dinamis baik dalam hal variasi kecepatan data dan dalam hal pembagian sumber daya antara pengguna yang berbeda.

Berikut adalah transport channel dan pemetaannya ke Physical Channel:
Broadcast Channel (BCH) adalah broadcast channel downlink yang digunakan untuk menginformasikan parameter sistem yang diperlukan untuk mengaktifkan perangkat untuk mengakses sistem. Parameter tersebut meliputi, misalnya, bandwidth sel, jumlah port antena pemancar, jumlah sistem frame dan konfigurasi PHICH terkait.
•  Downlink Share Channel (DL-SCH) membawa data pengguna untuk koneksi point-to-point arah downlink. Semua informasi (baik data pengguna atau lapisan yang lebih tinggi seperti informasi kontrol) ditujukan untuk satu pengguna atau UE yang ditransmisikan pada DL-SCH, asumsi UE tersebut sudah dalam keadaan RRC_CONNECTED. Namun, seperti di LTE, Peran BCH terutama untuk menginformasikan perangkat dari penjadwalan sistem informasi. Informasi kontrol ditujukan untuk beberapa perangkat juga dilakukan pada DL-SCH. Jika data pada DL-SCH hanya dimaksudkan untuk UE tunggal, maka dynamic link adaptation dan lapisan fisik retransmission dapat digunakan.
Paging Channel (PCH) digunakan untuk membawa informasi paging untuk perangkat di arah downlink untuk memindahkan status perangkat dari RRC_IDLE ke RRC_CONNECTED.
Multicast Channel (MCH) digunakan untuk mentransfer konten layanan multicast ke UE arah downlink. 3GPP memutuskan untuk memberikan dukungan penuh di Release 9.
Uplink Share Channel (UL-SCH) membawa data pengguna serta informasi kontrol original perangkat di arah uplink saat status RRC_CONNECTED. Seperti DL-SCH, dynamic link adaptation dan lapisan fisik retransmission dapat digunakan.
Random Access Channel (RACH) digunakan pada uplink untuk merespon paging atau untuk memulai langkah dari RRC_CONNECTED karena kebutuhan data transmisi UE. Tidak ada layer data yg lebih tinggi atau pengguna data ditransmisikan pada RACH (Seperti yang dapat dilakukan dengan WCDMA) tetapi digunakan untuk mengaktifkan transmisi UL-SCH, misalnya, connection setup dengan otentikasi dan sebagainya yang akan berlangsung.

Di arah uplink UL-SCH dilakukan oleh Physical Uplink Share Channel (PUSCH). RACH dilakukan oleh Physical Random Access Channel (PRACH). Pemetaan transport channel diilustrasikan pada ganbar berikut:

Gambar 1. Mapping of  Uplink Transport Channel

Di arah downlink, PCH dipetakan ke Physical Downlink Share Channel (PDSCH). Sedangkan BCH dipetakan ke Physical Broadcast Channel (PBCH), seperti pada gambar berikut:

Gambar 2. Mapping of  Downlink Transport Channel